TES JAWAB SINGKAT : SEBUAH REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU PERTEMUAN 2 BERSAMA PROF. MARSIGIT
Oleh: Rahma Hayati

Pada tanggal 26 Sptember 2017, dilaksanakan perkuliahan Filsafat Ilmu ke dua bertempat di lantai 1 Gedung Pascasarjana baru. Setelah dimulai dengan doa bersama, kuliah hari ini diawali dengan tes jawab singkat dengan jumlah 25 pertanyaan. Jujur ketika pertama kali saya mengikuti tes ini, saya bingung dan kaget begitu juga teman-teman yang lain karena memang sebelumnya tidak ada pemberitahuan untuk pelaksanaan tes.

Berikut saya tampilkan pertanyaan dari tes jawab singkat.
  1. Apa anda disini ?
  2. Siapa anda ?
  3. Mengapa anda ?
  4. Dari mana anda ?
  5. Mau kemana anda ?
  6. Siapa nama anda ?
  7. Dengan siapa anda ?
  8. Siapa di belakang anda ?
  9. Siapa di depan anda ?
  10. Siapa di atas anda ?
  11. Siapa di bawah anda ?
  12. Siapa orang tua anda ?
  13. Apa tujuan anda ?
  14. Anda sedang ngapain ?
  15. Karya anda itu apa ?
  16. Apa pilihan anda ?
  17. Siapa idola anda ?
  18. Anda dimana ?
  19. Siapa kekasih anda ?
  20. Apa yang anda benci ?
  21. Rumahmu di mana ?
  22. Pekerjaanmu apa ?
  23. Bacaanmu apa ?
  24. Nyanyianmu apa ?
  25. Pikiranmu dimana ?
Berdasarkan tes jawab singkat ini, saya menyadari bahwa masih banyak yang belum saya pahami dan ketahui. Seperti pesan dari Pak Prof. Marsigit, baca, baca dan baca. Maka saya akan terus belajar, memahami artikel-artikel, elegi-elegi dan tulisan Pak Prof. Marsigit lainnya yang terdapat pada https://powermathematics.blogspot.com.

Seperti yang Pak Prof. Marsigit sampaikan pada pertemuan sebelumnya bahwa dalam mempelajari filsafat, syaratnya adalah ikhlas. Ikhlas hati dan ikhlas pikir. Ikhlas hati berarti dalam mempelajarinya dengan senang dan hati dan tanpa beban, sedangkan ikhlas pikiran adalah senantiasa memahami apa yang telah dibaca dan dipelajari.

Selanjutnya Pak Prof. Marsigit menjelaskan bahwa pada dasarnya filsafat itu mempunyai 3 pilar. Pertama adalah ontologi. Ontologi berarti sesuatu yang mempelajari hakekat atau makna suatu benda yang bersifat konkret atau nyata. Selanjutnya, epistemologi yaitu yang mempelajari metode serta awal mulanya suatu pengetahuan. Dan yang terakhir adalah aksiologi yang berarti bagaimana seseorang menngunakan dan memanfaat pengetahuan yang telah dimilikinya.

Seluruh apa yang ada di bumi ini mempunyai potensi, karena pada dasarnya semua ciptaan Tuhan mempunyai potensi. Misalnya siang itu potensi untuk malam dan malam itu potensi untuk siang. Terdapat dua jenis potensi, yaitu potensi takdir dan potensi ikhtiar. Potensi takdir adalah potensi yang telah digariskan oleh-Nya sedangkan potensi ikhtiar adalah potensi yang dapat diusahakan oleh seseorang untuk mencapai apa yang ia inginkan, karena setiap manusia dan bahkan batu sekalipun mempunyai potensi untuk berubah.

Dalam berfilsafat sebenarnya kita dituntut untuk menyesuaikan antara ruang dan waktunya. Jangan sampai berbicara filsafat dihadapan orang awam karena ruang dan waktunya tidaklah sesuai. Untuk itu, perhatikan ruang dan waktu ketika akan berbicara dan membahas filsafat karena sebenar-benar kesalahan adalah ketika ruang dan waktu yang salah dan sesuatu yang memiliki dimensi yang berbeda.

Masing-masing orang bahkan makhluk lain pun mempunyai dimensi yang berbeda-beda. Misalnya antara cacing dengan ayam. Masing-masing mempunyai tingkatan dimensi yang berbeda. Sehingga ayam itu adalah dewanya cacing. Sampai kapanpun cacing tidak akan mengerti logika ayam karena dimensinya telah berbeda. Begitu juga bagi kami para mahasiswa. Dosen adalah dewanya mahasiswa, karena dimensi antara mahasiswa dengan dosen itu berbeda. Untuk itu, mahasiswa dituntut untuk selalu belajar dan banyak membaca untuk menembus ruang dan waktu agar dapat menaikkan dimensi mereka.

Komentar