HERMENEUTIKA dalam PEMBELAJARAN MATEMATIKA: SEBUAH REFLEKSI PERKULIAHAN
FILSAFAT ILMU PERTEMUAN 9 dan 10 BERSAMA PROF. MARSIGIT
Oleh: Rahma Hayati
Kali ini saya akan membagikan
pengalaman kuliah filsafat ilmu pada pertemuan ke 9 dan 10 pada 21 dan 28 November
2017. Kuliah hari ini sangat berbeda dari yang sebelumnya (diawali dengan tes
jawab singkat), karena pada perkuliahan hari ini Pak Prof. Marsigit menampilkan
hasil presentasi Beliau di Chiang Mai dengan judul “The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School:
Teachers’ Reflection Prior to Lesson Study Activities”.
Penjelasan Pak Prof. Marsigit
diawali dari pengertian hermeneutika. Hermeneutika merupakan suatu hal yang
mengalami perubahan sesuai ruang dan waktu atau bisa juga diartikan sebagai
sebuah proses untuk memahami dan menafsirkan sesuatu yang menembus ruang dan
waktu. Sedangkan hermeneutika jika dinaikkan ke tingkat spiritual maka disebut
dengan silaturahim. Di dalam
hermeneutika terdapat dua unsur. Pertama yaitu tanda garis lurus. Garis lurus
bisa juga dikatakan sebagai proses dimana kita tidak akan bisa mengulangi suatu
hal yang sama. Kedua yaitu tanda lingkaran, dimana lingkaran dimaksudkan
sebagai sebuah praktek, yang akan melakukan interaksi.
Jadi hermeneutika bisa juga diartikan
sebagai suatu cara atau proses untuk menuju perubahan. Sehingga keberadaan
hermeneutika ini menjadi suatu hal yang penting dalam bidang pendidikan, tidak
terkecuali untuk bidang pendidikan Matematika. Oleh karena itu, melalui
hermeneutika siswa diharapkan mampu mengeksplorasi pengetahuannya menuju
perubahan dalam hal pemahaman seiring dengan ruang dan waktu, sehingga memang
diharapkan siswa bisa menyelesaikan persoalan dalam matematika.
Salah satu hermeneutika dalam
pembelajaran matematika adalah dalam Iceberg
Theory. Teori ini merupakan visualisasi dari proses pembelajaran matematika
realistik atau yang dikenal sebagai Pendidikan Matematika Realistik Indonesia
(PMRI).
Gambar teori Iceberg
Berdasarkan skema pembelajaran yang
terdapat pada gunung es ini, terlihat beberapa lapisan yang menggambarkan
sebuah proses. Seperti yang kita ketahui bahwa gunung es pada awalnya terbentuk
di dasar laut dan semakin ke atas semakin meruncing. Sehingga yang terlihat
dari permukaan hanyalah puncak dari gunung es, sedangkan dasarnya tidak
terlihat akan tetapi bisa dipastikan dasar inilah yang membuat kokohnya gunung
es.
Begitu juga implikasi dari gunung
es ke dalam matematika bahwa dari gambar terlihat lapisan bawah pertama yaitu “mathematical world orientation”.
Maksudnya adalah dalam mengenalkan matematika kepada anak-anak mulailah dari
hal-hal konrit yang berasal dari dunia nyata. Pada lapisan selanjutnya adalah “model material”, dimana hal ini
merupakan proses pembentukan skema dari matematika. lapis diatasnya adalah “building stones: number relations”,
dimana pada tahap ini disebut juga sebagai tahap membangun pengetahuan. Dan
yang paling atas adalah “formal notation”,
yang bisa dikatakan inilah formal abstrak dari matematika.
Maka berdasarkan teori gunung es
ini, hendaklah guru mampu mengenalkan matematika sesuai dengan tahap-tahapnya
agar siswa benar-benar memahami matematika dengan baik. Dimulai dari
mengenalkan matematika yang berkaitan dengan dunia nyata sebagai dasar
pengetahuan siswa dan pada akhirnya siswa mampu memahami matematika secara
formal.
Komentar
Posting Komentar