PERKENALAN : SEBUAH REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU PERTEMUAN 1 BERSAMA PROF. MARSIGIT
Oleh: Rahma Hayati

Selasa, 5 September 2017, bertempat di gedung I.02 (gedung sangat baru dan masih proses pembangunan) lantai 6 ruang 13, saya bersama teman-teman Pendidikan Matematika Kelas A angkatan 2017 mengikuti perkuliahan perdana mata kuliah Filsafat Ilmu. Mata kuliah ini diampu oleh seorang dosen yang sangat menginspirasi yaitu Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Perkuliahan hari ini diawali dengan pembacaan surah Al Fatihah agar selama pembelajaran berlangsung selalui dilindungi dan diberkahi oleh Allah SWT. Selanjutnya adalah perkenalan, baik itu perkenalan antara dosen dengan mahasiswa maupun pengenalan tentang filsafat secara umum.
Pada dasarnya filsafat adalah olah pikir. Memikirkan suatu pembenaran terhadap objek pikir dan kemudian mengalirkan gagasan-gagasan dari olah pikir tersebut. Maka yang dipelajari dalam filsafat ini adalah pemikiran para filsuf. Pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat para filsuf terdahulu inilah yang musti dipelajari, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Immanuel Kant, dll, guna mengenal filsafat lebih jauh lagi.

Pak Prof. Marsigit juga menambahkan bahwa dalam memelajari suatu hal tidak harus melalui satu sumber melainkan banyak sumber. Seperti halnya dalam mempelajari filsafat, ilmu itu tersamar dan perlu dibuka kebenarannya sehingga dibutuhkan suatu usaha untuk menggapai ilmu. Banyak sumber yang sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk mengali ilmu, karena pada dasarnya ilmu itu tidak datang dengan sendirinya melainkan harus ada upaya untuk mendapatkannya. Seperti yang Pak Prof. Marsigit sampaikan bahwa sumber belajar untuk mendapatkan ilmu itu bisa dari mana saja, seperti pendapat para filsuf dan benda-benda yang terdapat di sekitar kita, contohnya batu, meja, kursi, cacing, ayam, dsb.

Selain itu, Pak Prof. Marsigit juga memfasilitasi bahan bacaan yang akan mendukung pemahaman dan pengetahuan para mahasiswa melalui tulisan-tulisan beliau yang terdapat di https://powermathematics.blogspot.com. Dengan adanya blog ini, diharapkan kami dapat membaca tulisan-tulisan Pak Prof., dalam rangka membangun ilmu pengetahuan dan mengenal lebih jauh lagi mengenai filsafat ilmu. Melalui refleksi dari setiap tulisan Bapak, diharapkan mahasiswa semakin memahami bahwa ilmu yang telah dimilikinya sekarang memang tidak sebanding dengan luas dan besarnya ilmu pengetahuan.

Di awal perkuliahan ini Pak Prof. Marsigit juga berpesan untuk selalu ikhlas dalam mencari dan menggapai ilmu. Ikhlas yang dimaksud disini adalah ikhlas hati dan ikhlas pikiran. Ikhlas hati adalah ikhlas dalam mempelajari ilmu filsafat dengan arti kata mempelajarinya dengan hati senang, tanpa paksaan dan tanpa beban. Dan ikhlas pikiran adalah ketika mempelajari ilmu filsafat selalu berusaha untuk memahami dan menelaah apa yang telah dibaca.

Pada perkuliahan ini juga Pak Prof. Marsigit sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyebabkan seisi kelas bingung. Kemudian beliau menjelaskan bahwa dalam mempelajari ilmu filsafat tidak masalah jika bingung, karena bingung itu adalah tanda awal dari filsafat. Pak Prof. Marsigit juga menambahkan bahwa bingung di dalam pikiran berarti sedang membangun dan mencari ilmu. itu tandanya kita sedang berpikir. Namun, janganlah sekali-kali bingung di dalam hati, karena itu adalah godaan syeitan. Oleh karena itu, senantiasalah berdoa, memohon perlindungan dari Allah SWT agar terhindar pengaruh syeitan.

Selanjutnya, Pak Prof. Marsigit menerangkan bahwa landasan filsafat itu adalah paradigma. Paradigmanya filsafat itu adalah membangun. Membangun dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Sedangkan tujuan dari filsafat adalah agar seseorang selalu berhati-hati dalam mendefinisikan sesuatu sehingga ia bisa menjadi lebih memahami dirinya sendiri. Sehingga menjadikan kepribadian seseorang menjadi tidak sombong.

Dengan demikian, pada dasarnya filsafat adalah oleh pikir dimana filsafat itu adalah penjelasan dan pemikiran seseorang. Untuk itu, ketika menggali ilmu filsafat hendaklah mantapkan hati. Tetapkan hati sebagai komando olah pikir, agar pikiran kita tidak melampaui batas.

Komentar