Ilmu adalah Penjelasan: SEBUAH REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU PERTEMUAN 3 BERSAMA PROF. MARSIGIT
Oleh: Rahma Hayati

Pada tanggal 4 Oktober 2017, dilaksanakan perkuliahan Filsafat Ilmu ke tiga bertempat di lantai 1 Gedung Pascasarjana baru. Setelah dimulai dengan berdoa bersama, kuliah hari ini kembali dimulai dengan tes jawab singkat seperti pada pertemuan sebelumnya. Dengan jumlah pertanyaan 25 soal, saya dan teman-teman sekelas masih mengalami kesulitan dalam menjawab tes jawab singkat ini, terlihat dari hasil tes jawab singkat yang sebagian besar adalah nilai nol.

Kegiatan selanjutnya kami para mahasiswa mengumpulkan kertas yang telah berisi pertanyaan-pertanyaan, yang kemudian pertanyaan tersebut akan dijelaskan oleh Pak Prof. Marsigit.

Pertanyaan pertama berasal dari Mas Dimas Candra Saputra. Yang ditanyakan adalah kapan seseorang dikatakan menguasai ilmu? Pak Prof. Marsigit menjelaskan bahwa seseorang dikatakan telah menguasai ilmu jika ia telah mampu menjelaskannya. Ia mampu bagaimana menjelaskan ilmu yang dimilikinya dengan cara yang mudah dimengerti oleh orang awam, bukan malah sebaliknya menjelaskan sesuatu yang justru semakin sulit dan menyebabkan orang awam semakin tidak mengerti. Pak Prof Marsigit memberikan contoh dengan menanyakan apa warna handphone yang sedang beliau pegang. Hampir keseluruhan dari kami menjawab warna handphone tersebut adalah hitam. Namun sebenarnya warna handphone itu adalah selain warna hitam. Nah disitulah letak perbedaan bagaimana seseorang dikatakan telah menguasai ilmu atau belum, yakni dengan apakah ia mampu menjelaskan ilmu itu sendiri. Maka, Pak Prof. Marsigit kembali mengingatkan kepada kami akan pentingnya membaca. Karena melalui membaca akan menghasilkan ilmu dan secara bertahap akan menjadikan seseorang menguasai ilmu tersebut.

Pertanyaan selanjutnya berasal dari Mba Vidiya Rachmawati. Pertanyaannya adalah mengapa orang hidup ada yang rajin dan ada yang malas? Penjelasan Pak Prof. Marsigit adalah sebenar-benar orang hidup adalah rajin dalam kemalasan dan malas dalam kerajinan. Seseorang itu malas akan tetapi juga rajin. Yang membedakan antara keduanya adalah kapan waktunya malas dan kapan waktunya rajin.
Pertanyaan ketiga berasal dari Ilma. Pertanyaannya adalah bagaimana cara agar orang mengikuti pikiran kita ? Jawaban dari Pak Prof. Marsigit adalah tidak semua perkataan kita, pikiran kita mesti diikuti oleh semua orang. Karena jika demikian, kita tidak akan bisa hidup dengan tenang karena akan ada saja orang yang menjadi bayang-bayang kita, yaitu mereka yang mengikuti pikiran kita. Jadi bukanlah sebuah keharusan bahwa orang mesti mengikuti pikiran kita.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Gina. Yang ia tanyakan adalah apa satu hal yang ingin Bapak ubah di dunia? Jawaban Pak Prof. Marsigit sangat berkesan bagi saya yakni “saya tidak punya kapasitas untuk mengubah dunia, tapi visi misi saya adalah supaya dunia mampu berfikir, masing-masing hidup dan mati sesuai dengan dunianya”. Contohnya mesin ketika ia tidak mengeluarkan asap dan bunyi maka ia mati. Bagi orang-orang filsuf jika ia tidak berfikir maka ia mati, karena sebenar-benar seorang filsuf adalah jika ia berfikir. Jadi semuanya telah diatur sesuai dengan dunianya. Misalnya dalam filsafat, sebenar-benar orang hidup itu adalah mereka yang berfikir. Sedangkan dalam tingkatan spiritual, sebenar-benar orang hidup itu adalah orang yang senantiasa beribadah dan berdoa.

Selanjutnya pertanyaan berasal dari Andi, yang menanyakan bagaimana cara mengatasi keraguan. Penjelasan Pak Prof. Marsigit dikaitkan dengan filsafat. Dalam filsafat memandang keraguan dari level yang paling bawah hingga keraguan di level yang paling tinggi. Keraguan pada level terbawah yang dimaksud adalah keraguan bagi fisik. Misalnya batu yang akan jatuh, ia ragu-ragu akan jatuh atau tidak. Sebenar keraguan ini sangat berbahaya karena akan merugikan. Sedangkan keraguan di level paling tinggi adalah keraguan dalam pikiran. Karena sebenar-benar filsafat adalah meragukan semua hal yang ada dalam pikiran, sehingga akan membuat seseorang menjadi berpikir. Tetapi janganlah sekali-kali ragu-ragu di dalam hati, karena sebenar-benar keraguan dalam hati merupakan godaan syaitan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini