KISAH RAMA DAN SHINTA: MENILIK NILAI ETIK DAN ESTETIKA DARI KISAH PERWAYANGAN
Oleh: Rahma Hayati

Pertunjukan wayang kulit (Museum Sonobudoyo, Yogyakarta)

Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit berbagi pengalaman ketika menyaksikan pertunjukan kesenian wayang kulit di Museum Sonobudoyo Alun-alun Utara Yogyakarta, hari Jumat 24 November 2017. Di museum ini pertunjukan wayang kulit diadakan setiap hari hari dimulai pukul 08.00 pm dan berakhir pada pukul 10.00 pm. Selain saya dan teman-teman, juga terlihat wisatawan-wisatawan asing yang menyaksikan pertunjukan  kesenian wayang kulit ini.

Suasana ketika pertunjukan wayang berlangsung

Sebenarnya ini adalah pengamalan pertama saya menyaksikan pertunjukan wayang, karena memang saya berasal dari Sumatera Barat dan di sana tidak ada pagelaran wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit yang saya tonton adalah kisah wayang yang menurut saya sangat populer yaitu kisah Rama dan Shinta. Namun, pertunjukkan kali ini tidak menampilkan kisahnya secara utuh, tetapi telah dipotong-potong menjadi beberapa episode. Dan episode yang saya saksikan adalah episode ke delapan yang berjudul “The Death of Rahwana” atau kematian Rahwana.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan (baik itu dari teman maupun petugas Museum Sonobudoyo) kisah tentang kematian Rahwana ini bertempat di Kerajaan Alengka. Ceritanya berawal dari kematian Kumbakarna yang membuat Rahwana terkejut dan marah. Melihat hal ini, Indrajit datang menemui Rahwana dan menyatakan bahwa ia bersama kedua saudaranya Tisirah dan Trinita siap untuk membalaskan dendam kepada Rama. Ketika bertemu di medan perang, Laksamana berhasil membunuh Indrajit. Singkat cerita, terjadilah pertarungan antara Rama dan Rahwana. Akhirnya Rahwana dibunuh oleh Rama dengan menggunakan senjata sakti yang bernama Gwawijaya. Dengan kematian Rahwana maka dunia terbebas dari kekuatan jahat.

Suasana penonton ketika pertunjukan wayang berlangsung

Dari pertunjukkan wayang kulit ini, saya tidak hanya sekedar menikmati namun juga dapat mengambil hikmah untuk pelajaran bagi kehidupan. Hikmah yang saya peroleh ini tergambar dari nilai etik dan estetika dari kisah perwayangan. Nilai etik merupakan nilai tentang baik atau buruk atas perbuatan seseorang. Dimana konsep nilai etik yang dimaksud adalah mendidik manusia ke arah tingkah laku terbaik, yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan nilai estetika adalah nilai tentang keindahan, dimana nilai ini bersifat subyektif dan sulit untuk dirumuskan. Karena keindahan itu bersifat abstrak maka tidak ada batasan untuk menilai suatu keindahan melainkan pada sesuatu yang indah.

Nilai etik pada kisah perwayangan dapat dilihat dari jalan cerita maupun dari perannya. Wayang merupakan gambaran atau cerminan kehidupan manusia, karenanya kita dapat mengambil banyak pelajaran untuk dapat diterapkan dalam dunia nyata. Misalnya  pada figur Indrajit, dimana ia diceritakan mempunyai niat untuk membalaskan dendam kepada Rama. Namun pada akhirnya ia sendiri yang terbunuh oleh Laksamana. Disini kita dapat mengambil pesan bahwa tidak baik jika mempunyai dendam terhadap orang lain, karena suatu saat bisa saja kita yang akan merugi.

Selain itu juga bisa dipetik nilai etik dari alur ceritanya, bahwa suatu kebaikan pada akhirnya akan membawa kebaikan pula dan sebaliknya suatu hal yang buruk pada akhirnya akan membawa keburukan. Meskipun keburukan itu disembunyikan, suatu saat juga akan terlihat buruknya.

Sementara itu, nilai estetika yang terdapat dalam wayang adalah dapat dilihat dari pelaksanaan dan peralatan yang digunakan dalam pertunjukan wayang. Diantaranya dari wayang itu sendiri. Bentuk wayang yang diukir dengan indah dan secara detail menggambarkan karakter dan watak dari tokohnya. Selain itu, saya juga melihat beberapa alat yang digunakan dalam pertunjukan wayang seperti kain putih untuk bayangan wayang dan batang pisang untuk menancapkan wayang, yang saya yakin disana pasti terdapat arti dan makna filosofisnya.

Nilai estetika lainnya yang saya amati adalah seni musik yang digunakan untuk mengiringi pertunjukkan wayang. Mungkin bagi saya pribadi gamelan merupakan alat musik yang asing, namun bagi masyarakat Jawa mungkin gamelan ini merupakan alat musik yang mudah ditemui terutama dalam pertunjukkan wayang. Saya melihat gamelan Jawa ini terdiri dari beberapa alat musik yang berbeda-bada, baik itu dari cara memainkannya, bentuk, ukuran dan bunyi yang dihasilkan. Meskipun berbeda-beda, jika alat musik ini dimainkan secara serentak dan selaras, maka akan menghasilkan harmoni yang sangat indah.

Demikian sedikit hikmah yang dapat saya petik dari pengalaman pertama menyaksikan pertunjukan wayang. Menurut saya selain merupakan aset budaya yang harus dilestarikan, pertunjukkan wayang juga mengandung banyak nilai etik dan estetika yang dapat diambil untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  

Foto bersama seusai menonton pertunjukan wayang

Komentar