TOPENG KEHIDUPAN : SEBUAH REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU PERTEMUAN 5
BERSAMA PROF. MARSIGIT
Oleh: Rahma Hayati
Kuliah filsafat ilmu pada pertemuan
ke lima dilaksanakan di gedung baru Pascasarjana pada hari selasa, 17 Oktober
2017. Kuliah hari ini dimulai dengan berdoa bersama agar pembelajaran yang
dilaksanakan berjalan dengan baik dan diridhoi Allah SWT. Kemudian kegiatan
selanjutnya adalah test jawab singkat. Seperti pada pertemuan dua minggu
sebelumnya, test jawab singkat berjumlah 25 pertanyaan dan kali ini yang
dilihat adalah gejala filsafat yang terjadi.
Setelah melaksanakan test jawab singkat,
Pak Prof. Marsigit mengulas kembali terkait dengan test tersebut. Pak Prof. Marsigit
memulai dengan pernyataan bahwa hidup itu adalah membangun. Dalam arti kata
membangun dengan cara berjuang dan berikhtiar serta dilandasi dengan doa. Maka
sebenar-benar hidup dan mati adalah usaha dalam menembus ruang dan waktu.
Di dalam kehidupan, sebenarnya
seluruh manusia hidup dalam keadaan bertopeng. Karena sesungguhnya manusia
tidak bisa hidup jika tidak memakai topeng. Maka bisa dikatakan bahwa tidak
akan bisa hidup seseorang jika topengnya tersebut dibuka. Banyak sekali contoh
nyata yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari untuk membuktikan bahwa
manusia selalu menggunakan topeng dalam kehidupannya. Salah satu contoh
sederhana yang diberikan oleh Pak Pof. Marsigit adalah: “Apakah diantara kita ada yang tidak pernah berbohong? Lalu kenapa
manusia itu pasti melakukan kebohongan?”.
Pertanyaan yang benar-benar tepat
untuk menggambarkan kehidupan ini. Saya rasa tidak akan ada orang di dunia ini yang
tidak pernah berbohong dalam hidupnya, apapun motif dibalik kebohongan
tersebut. Terlebih jika seseorang diberikan kekuasaan, maka semakin besar
kekuasaan yang dimiliki, akan semakin besar juga potensi kebohongan yang ia
lakukan. Dari sini kita belajar bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna,
semuanya mempunyai kekurangan dan kelemahan. Tapi setiap manusia bisa berusaha
untuk menjadi yang terbaik, selama ia selalu berusaha.
Manusia antar sesama manusia bisa
berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik karena masing-masingnya mempunyai
intuisi dan skema yang sama. Intuisi yang dimaksud adalah intuisi dua satu,
sedangkan interaksinya adalah interaksi yang terjadi antara waktu lampau dan
sekarang. Contoh sederhananya adalah dalam perbincangan yang terjadi antara
dosen dengan mahasiswa. Mahasiswa tidak akan memahami perkataan dari dosennya
jika dosen belum selesai berbicara. Mahasiswa akan memahami tepat setelah dosen
menyelesaikan pembicaraannya. Hal ini dapat terjadi karena adanya interaksi
antara waktu lampau dan sekarang, dimana kita masih punya ingatan, yaitu ingatan
mendengar, ingatan membaca dan seterusnya. Proses terjadinya seperti demikianlah
yang disebut dengan intuisi.
Contoh lain adanya interaksi antara
waktu lampu dan sekarang adalah ketika kita melihat bintang di langit. Sebenarnya
disana terdapat interaksi antar waktu, dimana cahaya bintang yang kita lihat
dibumi merupakan cahaya yang dipancarkan oleh bintang berpuluh bahkan beratus
tahun yang lalu. Hanya saja cahaya tersebut baru dilihat oleh mata di waktu
sekarang.
Komentar
Posting Komentar