MENGINGAT DAN MELUPAKAN : SEBUAH REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU PERTEMUAN 6 BERSAMA PROF. MARSIGIT
Oleh: Rahma Hayati

Kuliah filsafat ilmu pada pertemuan ke enam masih dilaksanakan di gedung baru Pascasarjana pada hari selasa, 31 Oktober 2017. Kuliah hari ini dimulai dengan berdoa bersama agar pembelajaran yang dilaksanakan berjalan dengan baik dan diridhoi Allah SWT. Selanjutnya adalah test jawab singkat seperti biasa, dimana test berjumlah 25 pertanyaan. Kemudian dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan langsung dijawab oleh Pak Prof. Marsigit.

Pertanyaan pertama dari Mbak Rahmi Puspita Arum. Pertanyaannya adalah dalam berfilsafat metode apa yang Bapak gunakan? Jawaban Pak Prof. Marsigit adalah dengan hermeneutika. Yaitu maksudnya adalah terjemah dan menerjemahkan serta menjalaninya. Contohnya adalah jika terdapat suatu gejala atau suatu persoalan muncul maka gelaja tersebut direfleksikan dengan cara terjemah dan menerjemahkan. Begitu seterusnya dilakukan setiap ada persoalan yang ditemukan.

Pertanyaan kedua berasal dari saya sendiri. Yang saya tanyakan adalah apakah ada indikator seseorang yang ikhlas dalam menuntut ilmu. Penjelasan Pak Prof. Marsigit dimulai dengan mendefinisikan apa itu ikhlas. Definisi ikhlas itu terbagi dua, yaitu ikhlas dalam hati dan ikhlas dalam pikir. Sedangkan dalam  filsafat ikhlas terbagi atas dua, yaitu intensi dan ekstensi. Intensi berarti ikhlas sedalam-dalamnya dan ekstensi berarti ikhlas seluas-luasnya. Sebenarnya ikhlas itu mempunyai struktur tingkatan masing-masing. Tingkatan pertama yaitu ikhlas di dalam materi, selanjutnya berturut-turut adalah ikhlas di dalam formal, normatik dan terahkir spiritual. Ikhlas dalam materi berarti seseorang ikhlas hanya yang terlihat dari tampilan luarnya saja, belum tentu hatinya juga ikhlas. Tingkatan kedua yaitu ikhlas di dalam formal, dimana secara fisik ia ikhlas tetapi belum tentu secara spiritualnya. Maka antara materi dengan spiritual terdapat rentangan yang sangat panjang, seribu kali seribu pangkat seribu, bukan hanya dari yang terlihat.

Pertanyaan selanjutnya adalah dari mba Yustin, dimana yang ia tanyakan adalah bagaimana caranya mengatur agar kita mampu melupakan sesuatu. Jawaban Pak Prof. Marsigit kali ini sangat simpel, yaitu jalani saja secara alami kemudian diiringi dengan ikhtiar dan doa. Sebenarnya sesuatu yang perlu diingat ini sesuai dengan situasi dan kondisinya, sesuai dengan baik atau buruknya. Sesuatu yang baik perlu untuk diingat namun sesuatu yang buruk janganlah diingat. Misalnya jika seseorang berbuat baik kepada kita, maka selalulah diingat kebaikan orang tersebut. Dan jika ada orang lain yang berbuat jahat kepada kita, maka lupakanlah kejahatannya tersebut.

Sesungguhnya ingatan itu hanyalah satu titik di antara banyak hal lain seperti fikiran, tindakan, perasaan, kenyataan, ucapan, pendengaran dan lain sebagainya. Maka seribu satu macam yang ada dan yang mungkin ada itu terkait dengan hermeneutika, dimana Bapak menjelaskan hermeneutika merupakan “pikirkanlah apa yang kamu kerjakan dan kerjakan apa yang kamu pikirkan di dalam skema kerangka doa”.

Jadi Pak Prof. Marsigit menyimpulkan bahwa ingatlah sesuatu yang semestinya diingat dan lupakanlah sesuatu yang semestinya dilupakan. Karena ada sesuatu hal yang memang seharusnya untuk kita lupakan, jika tidak maka akan menimbulkan bahaya dan keburukan. Dan ada juga sesuatu yang harus untuk diingat karena memang penting untuk diingat. Maka dari sini kita bisa belajar bahwa tempatkanlah segala sesuatu sesuai dengan ukurannya, sesuai dengan takarannya dan semua hal tersebut iringi dengan doa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini